
Solok – Peristiwa banjir bandang yang melanda Sumatra Barat pada akhir November 2025 lalu tidak hanya meninggalkan duka akibat rusaknya infrastruktur dan rumah warga, namun juga menyisakan masalah krisis air bersih di beberapa wilayah terdampak. Merespons situasi tersebut, GoSustain Humanitarian bersama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) segera menginisiasi program pembangunan sumur air bersih tepatnya di Nagari Muaro Pingai, Kecamatan Junjung Siriah, Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatra Barat.
Program ini menjadi harapan baru bagi masyarakat yang sebelumnya harus berjuang untuk mendapatkan akses air bersih di tengah keterbatasan pasca-bencana. Sumur yang dibangun tidak hanya diperuntukkan bagi kebutuhan masjid dan rumah tangga warga, tetapi juga difungsikan untuk memenuhi kebutuhan harian madrasah setempat.
Nagari Saniangbaka menjadi salah satu kawasan yang terdampak paling parah dalam musibah banjir bandang di Sumatra. Menurut data AHA Centre (ASEAN Disaster Information Network), tingginya intensitas hujan menyebabkan beberapa sungai, termasuk Batang Gawan dan Batang Sumani, meluap dan merendam pemukiman warga. Camat X Koto Singkarak, Chrismon Dharma, membenarkan bahwa dua kawasan paling parah terdampak adalah Nagari Saniangbaka dan Nagari Koto Sani.
Data Pemerintah Kabupaten Solok yang dihimpun ANTARA Foto menunjukkan angka kerusakan yang signifikan: 62 unit rumah mengalami kerusakan berat, 229 unit rusak sedang, dan 412 unit rusak ringan di tingkat kabupaten, dengan total 5.420 orang terdampak.
Krisis Air Bersih Pasca Banjir
Pasca bencana, sumber air bersih yang layak konsumsi justru semakin langka. Infrastruktur sumur warga banyak yang tertimbun lumpur, rusak, atau bahkan terkontaminasi oleh air banjir yang bercampur dengan limbah dan material tanah longsor.
Warga setempat mengaku kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Padatnya aktivitas evakuasi dan pembersihan lumpur pasca-banjir membuat kebutuhan air bersih menjadi sangat mendesak, terutama untuk memasak dan keperluan sanitasi.
Kolaborasi GH (Gosustain Humanitarian) dan BSI hadir untuk mengatasi persoalan ini. Program pembangunan sumur air bersih dirancang tidak hanya untuk mengatasi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat Nagari Saniangbaka di masa depan.
Manfaat Ganda: Warga dan Madrasah
Salah satu aspek istimewa dari program ini adalah pembangunan sumur yang juga melayani madrasah terdekat. Keberadaan sumur di area madrasah memberikan manfaat berlipat:
Kenyamanan Belajar: Para santri dan guru tidak perlu lagi kesulitan mendapatkan air untuk wudu, membersihkan ruang kelas, atau keperluan MCK (Mandi, Cuci, Kakus).
Edukasi Lingkungan: Program ini menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga kelestarian sumber daya air.
Penguatan Sosial: Madrasah yang difasilitasi air bersih dapat berfungsi optimal sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.
Proses Pembangunan yang Adaptif Pasca-Bencana
Tim GoSustain Humanitarian melakukan survei geoteknik untuk menentukan titik pengeboran yang tepat. Meski sempat terkendala akses jalan yang rusak akibat banjir, dan struktur tanah yang didominasi oleh bebatuan, namun proses pembangunan berjalan lancar berkat koordinasi dengan masyarakat setempat.

Bantuan serupa dari berbagai pihak sebelumnya telah berdatangan ke Solok. Seperti dilansir ANTARA, PT EDC Panas Bumi Indonesia (EDCPBI) juga menyalurkan bantuan kebutuhan pokok melalui PMI Solok pada awal Desember 2025 . Begitu pula Pemerintah Kabupaten Solok bersama Badan Gizi Nasional (BGN) yang mendirikan dapur umum untuk melayani ribuan warga terdampak .
Namun, bantuan untuk infrastruktur jangka panjang seperti pembangunan sumur air bersih ini dinilai lebih strategis karena membantu percepatan pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat.
Sinergi Korporasi dan Kemanusiaan
Kepala BSI menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud nyata tanggung jawab sosial perusahaan di bidang lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. “BSI tidak hanya hadir di saat senang, tetapi juga di tengah kesulitan saudara-saudara kita di Solok,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan GoSustain Humanitarian menambahkan bahwa program ini sejalan dengan misi organisasi untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya target ke-6 tentang air bersih dan sanitasi layak.
Harapan untuk Masa Depan
Ketua DKM Masjid yang juga merupakan koordinator dalam pembangunan air bersih ini menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas bantuan yang diberikan. “Kami sangat berterima kasih kepada GH (Gosustain Humanitarian dan Bank BSI. Sumur ini sangat berarti karena di tengah musibah banjir kemarin, air bersih adalah kebutuhan paling mendesak. Semoga ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya,” ungkapnya.
Ke depan, masyarakat berharap program serupa dapat terus berlanjut mengingat wilayah X Koto Singkarak yang dikelilingi oleh kawasan Danau Singkarak dan perbukitan ini memang rawan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan longsor.
© 2025 GOSUSTAIN Humanitarian — Yayasan Sustainability and Digital Gemilang Solusindo