
Belum ada program bernama itu di GH (Gosustain Humanitarian). Belum ada Ibu Aminah yang secara resmi kami dampingi. Tapi kami bermimpi — dan artikel ini adalah wujud keberanian kami untuk memulai percakapan.
Coba bayangkan: sebuah foto perempuan berlutut di antara reruntuhan rumahnya, wajahnya menunduk, air matanya mengalir deras. Foto itu viral. Dikirim ribuan kali dengan narasi: “Kasihan, tolong mereka.”
Satu hal yang cukup membuat resah: mengapa kita hanya melihat mereka saat paling rapuh, lalu pergi begitu kamera dimatikan?
Selama dua tahun terakhir, kami membaca laporan lapangan dari mitra kami, mewawancarai relawan yang kembali dari bencana, dan mempelajari praktik terbaik dari lembaga kemanusiaan di berbagai negara. Satu hal yang konsisten: di setiap lokasi bencana, perempuan menjadi wajah penderitaan di berita, tapi menjadi tulang punggung pemulihan di kehidupan nyata.
Artikel ini bukan laporan program GH. Ini adalah pengakuan jujur tentang mimpi kami — mimpi untuk suatu hari nanti bisa mendampingi para pemimpin perempuan pasca-bencana dengan cara yang benar.
Ibu Aminah (52) adalah nama yang kami pinjam untuk mewakili puluhan, bahkan ratusan, perempuan tangguh yang kami baca kisahnya dari laporan lintas lembaga. Di Lombok pasca-gempa 2018, seorang perempuan seusia itu benar-benar ada — namanya berbeda, tapi kisahnya nyata. Rumahnya rata dengan tanah. Suaminya cedera. Tiga anaknya harus tetap sekolah di tenda.
Dia memulai dari dapur umum. Lalu memimpin 12 perempuan. Lalu memberi makan 200 orang per hari.
Lalu suatu sore, dia berkata: “Saya tidak punya rumah lagi. Tapi di dapur ini, saya punya suara.”
Kisah itu dicatat oleh jurnalis dan peneliti dari berbagai organisasi. Bukan oleh GH. Kami tidak ada di sana. Tapi kisah itu mengubah cara kami berpikir.
Kami bertanya pada diri sendiri: andai kami berada di sana, apa yang akan kami lakukan untuk mendukung perempuan seperti dia?
Jawaban jujurnya: saat ini, kami belum punya protokol untuk itu. Dan itulah mengapa artikel opini ini kami tulis.
Penelitian UN Women (2022) menunjukkan bahwa di 78% komunitas pasca-bencana, perempuan mengambil peran kepemimpinan informal dalam tiga bulan pertama — mulai dari mengatur distribusi makanan, menjaga keamanan anak-anak, hingga menjadi mediator konflik antar pengungsi.
Tapi hanya 8% dari mereka yang dilibatkan dalam rapat koordinasi resmi dengan lembaga bantuan.
Artinya: mereka memimpin, tapi tidak diundang ke meja pengambilan keputusan.
Apakah GH saat ini sudah berbeda? Jujur: belum sepenuhnya. Kami masih belajar. Kadang, dalam tekanan respons darurat, kami pun lupa melibatkan pemimpin informal perempuan. Ini bukan kebanggaan. Ini adalah pekerjaan rumah yang kami akui di depan publik.
Dan dengan mengakuinya, kami berharap bisa menjadi lebih baik.
Jika GH diberi keberanian dan sumber daya yang cukup, inilah yang ingin kami wujudkan. Bukan fakta. Tapi rencana yang masih perlu didiskusikan, dikritik, dan disempurnakan.
1. Listening Session tanpa agenda
Kami bermimpi untuk rutin duduk di dapur umum atau teras tenda, dan bertanya: “Menurut ibu-ibu, apa yang paling dibutuhkan saat ini?” Bukan menanyakan kebutuhan versi kami, tapi versi mereka.
2. Pengakuan Kapasitas Lokal secara Formal
Kami bermimpi untuk secara resmi menunjuk perempuan-perempuan tangguh itu sebagai koordinator sektor (dapur, pendidikan darurat, perlindungan anak) dengan surat tugas resmi. Agar mereka punya kekuatan saat berhadapan dengan lembaga bantuan lain.
3. Dana Kecil untuk Ide Besar Perempuan
Kami bermimpi memiliki dana mikro (Rp 500.000–2.000.000 per kelompok) yang bisa diakses tanpa proposal rumit. Hanya cukup menjelaskan ide secara lisan. Karena kami percaya: perempuan yang tahu persoalan lingkungannya akan tahu solusi terbaik.
Kami memberi nama mimpi ini: “Perempuan Tangguh Nusantara.” Saat ini, itu baru nama di kertas. Belum ada anggarannya. Belum ada timnya. Tapi kami percaya, memberi nama pada mimpi adalah langkah pertama mewujudkannya.
Padahal, dunia bencana bergerak cepat. Kebutuhan berubah setiap hari. Tidak ada lembaga yang sempurna.
Kami ingin mencoba sesuatu yang lain: kejujuran.
Kami ingin pembaca tahu bahwa GH tidak mengklaim telah menyelamatkan dunia. Kami sedang berjalan. Kadang tersandung. Kadang sadar bahwa kami melewatkan hal-hal penting — seperti melibatkan pemimpin perempuan sejak hari pertama.
Dengan menulis mimpi ini secara terbuka, kami mengundang Anda untuk:
Mengkritik jika rencana kami masih naif.
Memberi saran jika Anda punya pengalaman di lapangan.
Bergabung jika Anda ingin mewujudkannya bersama.
Karena mimpi yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun, selamanya hanya akan menjadi lamunan.
Jika Anda membaca sampai di sini, kami hanya punya satu pesan kecil:
Lain kali saat Anda melihat foto perempuan di tengah bencana, tahan dulu rasa kasihan Anda. Lalu tanyakan: siapa dia sebenarnya?
Mungkin dia ibu yang malam itu juga mengatur jadwal ronda. Mungkin dia janda yang menjadi pencari nafkah tunggal sekaligus pengurus dapur umum. Mungkin dia diam-diam menjadi penengah ketika dua kepala keluarga bertengkar memperebutkan tenda.
Jangan hanya melihat air matanya. Lihat juga tangannya yang terus bergerak merenda kehidupan bagi orang lain.
Dan jika Anda ingin menjadi bagian dari cerita ini, Anda tidak harus turun ke lapangan. Mulailah dari hal sederhana: hentikan hanya menyebarkan narasi kesedihan. Sebarkan juga cerita tentang kekuatan yang tidak terlihat.
Karena perempuan pasca-bencana bukanlah korban statis yang menunggu uluran tangan. Mereka adalah pemimpin yang sedang mencari kesempatan untuk membuktikannya.
Dan kami di GH — meskipun saat ini baru sampai pada tahap bermimpi dan mengaku — ingin menjadi bagian dari pemberian panggung itu. Bukan sekadar plester.
GH (Gosustain Humanitarian) — Berkata jujur tentang hari ini, bermimpi besar tentang besok.
Catatan Transparansi dari Penulis:
Program “Perempuan Tangguh Nusantara” yang disebut dalam artikel ini adalah usulan internal gosustain yang belum diimplementasikan. Tidak ada penerima manfaat bernama Ibu Aminah yang secara resmi didampingi oleh GH. Kisah Ibu Aminah adalah ilustrasi berdasarkan sintesis dari berbagai laporan kemanusiaan (termasuk UN Women, Oxfam, dan pengamatan lintas lembaga) — bukan pengalaman langsung GH. Kami menulis ini untuk memulai diskusi, bukan untuk mengklaim pencapaian.
© 2025 GOSUSTAIN Humanitarian — Yayasan Sustainability and Digital Gemilang Solusindo