Perempuan di Garda Depan Krisis Air Bersih

Di sebuah desa di Nusa Tenggara Timur, Mentari harus memulai harinya sebelum matahari terbit. Setiap pagi, ia berjalan kaki sejauh tiga kilometer menuju sungai satu-satunya yang airnya masih tersisa di musim kemarau. Dengan jeriken plastik di punggung, ia bolak-balik hingga delapan kali untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Aktivitas ini menyita lebih dari lima jam waktunya setiap hari—waktu yang seharusnya bisa ia gunakan untuk bekerja, belajar, atau beristirahat.

Cerita Mentari bukanlah kisah individu. Ini adalah realitas harian bagi jutaan perempuan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Perempuan sebagai Pengelola Utama Air

Dalam banyak budaya, termasuk di pedesaan Indonesia, tanggung jawab menyediakan air untuk keperluan minum, memasak, dan membersihkan rumah secara tidak tertulis menjadi beban perempuan dan anak-anak perempuan. Mereka adalah “manajer air” yang tidak terlihat. Sebuah laporan dari UNICEF dan WHO menyebutkan bahwa di negara berkembang, perempuan dan anak perempuan bertanggung jawab atas pengumpulan air dalam 8 dari 10 rumah tangga yang tidak memiliki akses air langsung di rumah.

Peran ini membawa konsekuensi besar yang seringkali tidak disadari:

  1. Hilangnya Kesempatan Ekonomi dan Pendidikan
    Waktu yang dihabiskan untuk mengambil air adalah waktu yang tidak produktif secara ekonomi. Anak perempuan seringkali putus sekolah karena harus membantu keluarga mengambil air, terutama saat kemarau panjang. Mereka kehilangan hak dasar mereka untuk belajar dan mengembangkan potensi diri.

  2. Masalah Kesehatan yang Berlipat Ganda
    Air yang tidak bersih menjadi sumber berbagai penyakit: diare, tifus, hingga kecacingan. Perempuan, sebagai pengelola rumah tangga, paling terdampak. Mereka tidak hanya berisiko sakit, tetapi juga harus merawat anggota keluarga yang jatuh sakit akibat air kotor. Beban ganda ini semakin menguras fisik dan mental.

  3. Risiko Keselamatan dan Kekerasan
    Perjalanan panjang ke sumber air, terutama di daerah terpencil atau saat malam hari, meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender. Kasus pelecehan seksual terhadap perempuan saat mengambil air di lokasi terpencil bukanlah hal yang langka, meski jarang dilaporkan.

  4. Dampak pada Kesehatan Reproduksi dan Martabat
    Kurangnya akses air bersih di rumah berarti sulit bagi perempuan untuk menjaga kebersihan saat menstruasi. Hal ini mempengaruhi kesehatan reproduksi dan juga martabat mereka. Banyak anak perempuan yang melewatkan sekolah saat menstruasi karena tidak ada fasilitas air bersih dan sanitasi yang layak.

Krisis Iklim Memperparah Beban Perempuan

Perubahan iklim membuat ketimpangan ini semakin parah. Kekeringan yang lebih lama, sumber mata air yang mulai surut, dan musim hujan yang tidak menentu membuat akses air bersih semakin sulit. Akibatnya, jarak tempuh menjadi lebih jauh, waktu yang dihabiskan lebih panjang, dan beban yang dipikul di punggung mereka semakin berat.

Perempuan dan anak perempuan menjadi yang paling pertama merasakan dampak krisis iklim, karena mereka adalah pihak yang paling bergantung pada sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Solusi Berperspektif Gender

Menyediakan akses air bersih bukan hanya soal infrastruktur. Ini adalah investasi untuk kesetaraan dan pemberdayaan perempuan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketika akses air bersih didekatkan ke rumah, misalnya melalui pipanisasi, sumur bor, atau teknologi pemanenan air hujan, maka:

  • Angka partisipasi sekolah anak perempuan meningkat drastis.

  • Perempuan memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja dan berkontribusi pada ekonomi keluarga.

  • Angka kekerasan terhadap perempuan menurun.

  • Kesehatan keluarga secara keseluruhan membaik.

Lebih dari itu, penting untuk melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan tentang pengelolaan sumber daya air. Selama ini, forum-forum desa atau musyawarah tentang infrastru air seringkali didominasi laki-laki. Padahal, perempuan memiliki pengetahuan lokal yang kaya tentang sumber air, musim, dan kebutuhan penggunaan air yang berbeda.

Langkah Kecil Kita Bersama

Kita tidak perlu menunggu kebijakan besar dari pemerintah untuk memulai. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa kita dukung:

  • Mendukung organisasi lokal yang fokus pada pembangunan sumur, sanitasi, dan edukasi kebersihan di pedesaan.

  • Mengadvokasi anggaran desa agar dialokasikan untuk penyediaan air bersih yang mudah diakses, bukan hanya untuk proyek-proyek fisik yang megah namun tidak tepat sasaran.

  • Menyadari hak kita untuk bersuara di tingkat RT/RW dan desa tentang pentingnya akses air yang merata.

  • Menghemat air di rumah kita sendiri, karena krisis air adalah krisis kemanusiaan yang nyata.

Penutup

Air bersih adalah hak asasi manusia, bukan hak istimewa. Dan selama perempuan masih harus berjalan berjam-jam hanya untuk mendapatkan seteguk air, maka kesetaraan gender akan tetap menjadi mimpi di siang bolong.

Ketika kita berbicara tentang akses air bersih, sebenarnya kita sedang berbicara tentang pemberdayaan perempuan. Ketika kita memberi mereka akses ke air, kita memberi mereka waktu, kesehatan, pendidikan, dan martabat. Kita memberi mereka kesempatan untuk menjadi bukan hanya penanggung jawab air di rumahnya, tetapi juga pemimpin di komunitasnya.

Mari jadikan air bersih sebagai jembatan, bukan lagi sebagai penghalang, bagi perempuan untuk meraih mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lembaga kemanusiaan nirlaba yang berkomitmen mendorong terciptanya masyarakat yang berdaya, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.

Informasi

© 2025 GOSUSTAIN Humanitarian — Yayasan Sustainability and Digital Gemilang Solusindo